Saudur bahagia menjadi seorang petani. Baginya, bertani adalah pekerjaan mulia. Menurut Saudur, karena saat bertanilah kita memanfaatkan tanah pemberian Tuhan untuk menghasilkan panen, untuk keberlangsungan hidup manusia.
Tanah itu adalah bagian dari diri kita, sehingga harus dijaga dan dirawat seperti kita menjaga dan melindungi diri kita dari ancaman ataupun bahaya.
Baca Juga:
Akui Kekecewaan, Ketua Komisi IV DPRD Minta Pegawai Puskesmas Rawa Tembaga Nonjob
Pergumulan dalam Pertanian
Resah dan gelisah, menjadi sesuatu hal yang membuat Saudur tidak tenang lagi tinggal di kampungnya.
Sejak tahun 1998 telah hadir sebuah perusahaan besar yang akan menambang di Kecamatan Silima Punggapungga.
Baca Juga:
Perluas Pemasaran Hasil Pertanian,Pemkab Karo Kirim Komoditas Unggulan Tahap ke 2 ke Palangkaraya
Saat kedatangan pertambangan yang awalnya milik Australia itu, masyarakat dan Saudur sendiri tidak terlalu peduli, karena belum mengetahui apa dan seperti apa pertambangan yang akan hadir di desa mereka itu.
Hingga, berdasarkan pemaparan Saudur, di tahun 2009 dia mengenal sebuah lembaga yang bergerak di bidang diakonia dan saat itu ada sebuah komunitas yang dibentuk yaitu organisasi perempuan.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai bertanya-tanya apa dan seperti apa pertambangan yang akan hadir di tempat mereka itu.