Penulis: Devi Romauli Sianipar (Staff Yayasan Diakonia Pelangi Kasih)
WahanaNews-Dairi | Karena keterbatasan ekonomi, pendidikan yang ditempuh Saudur boru Sitorus berakhir di tingkat SMP.
Baca Juga:
PLN UID Jakarta Raya Tuntaskan Misi Recovery Kelistrikan Aceh, 90 Personel Berhasil Pulihkan Ratusan Aset dan 441 Pelanggan
Selain faktor ekonomi, Saudur masih memiliki 4 orang adik yang memerlukan biaya untuk sekolah. Pada masa itu, mengecap pendidikan hingga tingkat SMP, sudah sangat hebat.
Saat kecil Saudur bercita-cita menjadi seorang guru, karena dia ingin mencerdaskan kehidupan bangsa terkusus anak-anak.
Dia sangat senang jika anak-anak menjadi pintar dan memiliki pengetahuan yang luas. Ia sempat juga menjadi seorang guru honor disebuah Sekolah Dasar (SD). Mencoba melamar CPNS, Saudur tidak lulus.
Baca Juga:
Perkuat Keamanan Digital, Pemkab Karo Jalin Kerja Sama Sertifikat Elektronik dengan BSSN RI,Layanan Administrasi Lebih Cepat
Saat menjadi guru honor, biaya hidupnya tidak terpenuhi karena ia hanya memperoleh upah secara sukarela dan bahkan berbulan-bulan ia lalui tanpa digaji.
Seiring berjalannya waktu dia dinikahi seorang laki-laki yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengannya.
Cita-cita yang Saudur impikan menjadi seorang guru di sekolah formal dengan status PNS, yang akan mencerdaskan kehidupan generasi bangsa, tidak dapat ia wujudkan.