Menurut Hinca, siapa pun yang diuntungkan oleh kekaburan itu adalah pihak yang paling berkepentingan agar publik sibuk menonton "perang", alih-alih menuntut kejelasan.
"Yang kita saksikan ini bukan perang. Perang itu ada pemenang dan pecundang. Yang sedang terjadi justru sebaliknya, dua institusi yang sama-sama menunaikan mandat yang diberikan konstitusi kepada mereka," kata Hinca.
Baca Juga:
Komisi VII DPR Dorong Sinergi Pemerintah dan Swasta Percepat Pengembangan Desa Wisata
Ia menilai kata "perang" terlalu murah untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya sebuah kewajiban. Penyidik yang mengejar petunjuk sampai ke ujung bukan sedang memusuhi siapa pun. Itu pekerjaan mereka.
"Ada satu hal yang selalu berulang di negeri ini. Begitu pisau bedah menyentuh yang berkuasa, seketika luka kecil dibesar-besarkan jadi konspirasi. Seolah yang salah itu tangan yang memegang pisau, bukan penyakit yang ada di dalam tubuhnya," ujar Hinca.
Ia mengingatkan bahwa institusi mana pun, termasuk institusi penegak hukum, tidak identik dengan orang per orang yang ada di dalamnya. Menyoroti dugaan yang menyentuh seorang pejabat tidak sama dengan menyerang lembaga tempat ia bernaung. Justru dengan membiarkan penyidikan berjalan, marwah institusi itu terjaga.
Baca Juga:
PLN WATCH Desak APH Bongkar Mafia Pengadaan Batu Bara yang Nyaris Menumbalkan PLN
Kebaikan Tak Menghapus Kesalahan
Petinggi yang lokasinya kini disorot dikenal sebagai figur yang selama bertahun-tahun memimpin penyidikan sejumlah perkara korupsi besar di negeri ini. Bagi Hinca, rekam jejak seperti itu tidak boleh menjelma menjadi tameng.
"Kita ini sering keliru. Seolah orang yang berjasa besar pantas dapat keringanan begitu dia tersandung masalah," kata Hinca.
Menurut dia, kebaikan seseorang tidak pernah menghapus kesalahannya. Keduanya dihitung terpisah.