Dimulainya Aksi D.B. Cooper
Tetapi ketika pesawat hendak mencapai destinasi, seorang lelaki dengan perawakan cukup tinggi yang berpakaiian rapi mengenakan kemeja lengkap dengan dasi dan jas secara tiba-tiba memberikan sepucuk surat ke pramugari Florence Schaffner.
Baca Juga:
Wanita 70 Tahun Bisa Melahirkan, Inilah Sederet Kisah Kehamilan di Usia Tua
Schaffner yang menerima surat tersebut, awalnya mengira paling itu hanyalah rayuan dan godaan seorang penumpang yang mengajaknya untuk berkencan, tetapi situasi yang awalnya tenang dan normal pun berubah seketika menjadi tegang.
Sketsa wajah D.B. Cooper yang sosoknya tidak pernah tertangkap dan identitas aslinya tidak pernah terungkap [DAIRI.WAHANANEWS.CO / Kompasiana.com / FBI.gov]
Surat yang diberikan kepada Schaffner tersebut rupanya bukanlah rayuan dan godaan, melainkan suatu ancaman, di mana sang penumpang yang duduk di kursi 18-E yang berjarak cukup dekat dengan kursi jumpseat Schaffner tersebut menuliskan bahwa "di dalam tas kopernya terdapat sebuah bom dan jika tuntutannya tidak terpenuhi, maka bom tersebut akan ia ledakan.
Baca Juga:
Instagram Rajai Daftar Aplikasi Terpopuler di Dunia, Ini 10 Besar Lainnya
Terkejut bukan main, Schaffner pun menghampiri penumpang yang diketahui berdasarkat nama yang tertulis di tiket pesawat, bernama "Dan Cooper" tersebut untuk tidak bercanda dengan candaan-candaan yang bernada ancaman ketika penerbangan berlangsung.
Tetapi rupanya Cooper tidak bercanda, ketika tas koper milik Cooper dibuka ketakutan Schaffner pun memuncak, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Cooper memang membawa seperangkat bom yang terdiri dari beberapa dinamite dan siap ia ledakan.
Cooper pun memerintahkan Schaffner untuk tidak bertindak gegabah yang akan menimbulkan kepanikan penumpang-penumpang lainnya dan memintanya untuk menyampaikan tuntutannya kepada Kapten Pesawat agar disampaikan kepada kantor Northwest Orient di kota Seattle.