"Tentu dibutuhkan keseriusan dan political will atau kemauan pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut melalui kebijakan yang berpihak kepada pertanian organik," ujar Duat.
Dijelaskan, beberapa persoalan masih dihadapi petani saat ini, diantaranya akses modal, kelangkaaan pupuk dan regenerasi petani yang sangat lambat, menyebabkan produktifitas pertanian sangat rendah.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Persoalan lain, hilangnya percaya diri dari petani, dimana petani semakin tergantung kepada pertanian yang instan pemakaian pupuk kimia dan pestisida kimia berlebihan.
Bibit hibrida manjadi indentitas baru petani. Siapa yang mampu mengakses itu semua dengan modal yang tidak sedikit, maka itulah disebut petani sukses dan berhasil.
"Lalu apa dampaknya? Kita kehilangan bibit lokal yang sebenarnya sangat tahan terhadap hama dan penyakit. Kita kehilangan kearifan lokal yang dulu sangat membantu kita mengurangi biaya produksi pertanian kita," ujar Duat.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
Sementara Ketua Panitia HUT PPODA ke-18 Antoni Sihombing mengatakan, pembiayaan HUT dimaksud merupakan swadaya seluruh anggota PPODA, didukung pengurus dan panitia.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh undangan yang telah memberikan perhatian dan waktu untuk menghadiri perayaan HUT ini dan ini merupakan kehormatan besar bagi kami," katanya.
Ketua Umum PPODA Parlindungan Tambunan berharap pesta HUT PPODA tersebut dapat menumbuhkan solidaritas diantara anggota untuk mewujudkan pertanian organik sebagai upaya memajukan Petani Dairi. [gbe]