Kita selalu hadir sebagai penjual yang perlu pembeli, bukan sebagai pemain yang posisinya menentukan keseimbangan pasar.
Apa akibatnya? Akibatnya adalah setiap kali ada gangguan dari luar, entah itu konflik, entah itu kenaikan biaya, entah itu perubahan regulasi, yang menyesuaikan diri selalu diri kita.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Bukan karena kita tidak ada pilihan lain tapu karena kita tidak pernah menyiapkan pilihan itu sejak awal.
Selat yang Tidak Pernah Benar-benar Aman
Satu hal yang perlu kita terima dengan jujur adalah bahwa kawasan Timur Tengah tidak pernah benar-benar stabil dalam 50 tahun terakhir. Sekali lagi, dalam 50 tahun terakhir.
Ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat selalu ada dalam berbagai derajat. Ia kadang mereda, tapi tidak pernah selesai.
Baca Juga:
China Tawarkan Energi ke Taiwan, Ada Syarat Besar di Baliknya
Dan selat Hormuz, lau Merah, teluk Aden, semua tetap berada disana, tetap menjadi jalur yang tidak bisa kita lewati dan tetap menjadi titik paling rentan setiap kali suhu kawasan itu naik lagi.
Pertanyaannya, bukan apakah situasi ini akan memburuk. Pertanyaannya adalah ketika ia memburuk lagi, dan itu hanya soal waktu, apakah kita masih akan merespon dengan cara yang sama seperti hari ini atau dua tahun yang lalu? Diam, menyerap sendiri lalu melanjutkan hidup seolah tidak pernah ada yang perlu diubah.
Hilirisasi Tidak Mengubah Peta
Apa itu? Begini penjelasannya. Orang biasanya menyebut hilirisasi sebagai solusi. Jangan ekspor mentah. Olah dulu, naikkan nilai tambah dan secara prinsip itu benar. Kita memang harus menuju kesana.