DAIRI.WAHANANEWS.CO, Sidikalang - Anggota Komisi III DPR RI, Hinca Panjaitan mengulas konflik yang tengah terjadi saat ini di Timur Tengah, serta pengaruhnya ke sawit di Indonesia.
Dilihat WahanaNews.co di akun facebooknya, Kamis (19/3/2026), berikut ulasan Hinca Panjaitan tersebut.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Kita Non Blok, Tapi Dagangan Kita Tidak
Ada kebanggan yang kita wariskan turun temurun soal politik luar negeri Indonesia. Apa itu, bebas aktif, tidak berpihak.
Dan ketika Iran dan Israel saling serang, posisi resmi kita selalu sama, yakni memghimbau semua pihak menahan diri, mendorong perdamaian dan menegaskan bahwa kita bukan bagian dari konflik itu.
Tapi, coba tanya ke pelabuhan Belawan di Medan, tempat saya dulu besar, karena sekolah di kota Medan.
Baca Juga:
China Tawarkan Energi ke Taiwan, Ada Syarat Besar di Baliknya
Kapal-kapal yang membawa minyak sawit kita ke India, ke Pakistan, ke Bangladesh, semua melewati rute yang sama, laut Merah, selat Hormuz, persis di jantung kawasan yang sedang bergejolak itu.
Torsa politik saya yang lalu, telah mengangkat soal isu selat Hormuz ini. Kita memang bukan peserta konflik. Tapi perdagangan kita terjebak di tengah-tengahnya.
Perlu kita ketahui bersama bahwa Indonesia menguasai lebih dari separuh ekspor minyak sawit dunia. Nilainya pun besar sekali. 20 miliar dolar di tahun 2024.
Industri ini juga menghidupi 4,5 juta orang Indonesia. Tapi semua itu harus keluar lewat satu pintu dan pintu itu sedang dalam kondisi yang tidak bisa kita prediksi belakangan ini.
Apa yang Terjadi Ketika Pintu Itu Macet
Kita tidak perlu berspeklulasi soal ini karena kita sudah punya contoh nyata. Akhir tahun 2023 ketika Houti menyerang kapal-kapal di laut Merah, hampir semua perusahaan pelayaran internasional besar, memutuskan hal yang sama, apa itu, putar balik. Ambil rute Afrika.
Perjalanan yang biasanya 2 minggu, berubah menjadi sebulan. Biaya operasional membengkak drastis. Dan karena mereka tidak mau rugi, selisih itu dibebankan kedalam rantai harga komoditas.
Bagi eksportir sawit, ini berarti margin yang lebih tipis. Bagi pengepul ini berarti negosiasi yang lebih ketat lagi. Dan pada ujung rantai yang paling bawah, ada petani, orang-orang yang saya wakili di Sumatera Utara III yang tiba-tiba mendapati harga beli tandan buah segar turun. Tanpa penjelasan, tanpa pemberitahuan.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di laut Merah. Yang mereka tahu hanya harga minggu ini, lebih rendah dari minggu lalu. Itulah yang terjadi dua tahun lalu. Ketika situasinya belum sepanas sekarang.
Wajah yang Tidak Muncul di Berita
Ketika media memberitakan dampak konflik Timur Tengah pada komoditas yang tampil biasanya adalah grafik harga.
Konfrensi pers teman-teman dari gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia, yang datar-datar saja, landai-landai saja, atau rilis dari Kementerian Perdagangan.
Sedangkan petani sawit di Sumatera Utara tidak masuk dalam frame itu. Padahal merekalah yang paling langsung menanggung konsekuensinya. Di Labuhan Batu, di Asahan, di Padang Lawas, dan atau tempat-tempat lain penghasil kelapa sawit.
Sebagian besar kebun dikelola keluarga dengan lahan 2-4 hektar saja, kecil sekali. Tidak ada kontrak jangka panjang yang melindungi mereka dari fluktuasi harga.
Tidak ada instrumen keuangan untuk meredam guncangan harga. Panen datang setiap dua minggu dijual kepengepul dan harganya mengikuti kondisi hari itu.
Nah ketika biaya logistik global naik akibat gangguan di jalur laut nun jauh disana, tekanan itu tidak berhenti di level korporasi.
Ia mengalir turun sampai ke tangan petani yang bahkan tidak tahu nama selat yang menjadi sumber masalahnya.
Inilah yang selalu luput dari diskusi kita. Bahwa geopolitik itu bukan abstraksi. Ia konkrit dan ujung-ujungnya selalu mendarat di tempat yang paling tidak siap menerimanya.
Produsen Terbesar yang Tidak Punya Suara
Ini pun jadi soal kita. Yang membuat situasi ini semakin pelik adalah kenyataan bahwa sebenarnya kita punya modal yang sangat besar untuk tidak berada di posisi ini.
Lebih dari separuh pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Kalau kita berhenti ekspor selama sebulan, harga minyak nabati global akan langsung berguncang.
Itu bukan kecil. Itu leverage yang nyata. Tapi leverage itu tidak pernah kita gunakan sebagai instrumen posisi tawar dalam diplomasi dagang, dalam negosiasi rute, atau dalam percakapan tentang keamanan jalur ekspor.
Kita selalu hadir sebagai penjual yang perlu pembeli, bukan sebagai pemain yang posisinya menentukan keseimbangan pasar.
Apa akibatnya? Akibatnya adalah setiap kali ada gangguan dari luar, entah itu konflik, entah itu kenaikan biaya, entah itu perubahan regulasi, yang menyesuaikan diri selalu diri kita.
Bukan karena kita tidak ada pilihan lain tapu karena kita tidak pernah menyiapkan pilihan itu sejak awal.
Selat yang Tidak Pernah Benar-benar Aman
Satu hal yang perlu kita terima dengan jujur adalah bahwa kawasan Timur Tengah tidak pernah benar-benar stabil dalam 50 tahun terakhir. Sekali lagi, dalam 50 tahun terakhir.
Ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat selalu ada dalam berbagai derajat. Ia kadang mereda, tapi tidak pernah selesai.
Dan selat Hormuz, lau Merah, teluk Aden, semua tetap berada disana, tetap menjadi jalur yang tidak bisa kita lewati dan tetap menjadi titik paling rentan setiap kali suhu kawasan itu naik lagi.
Pertanyaannya, bukan apakah situasi ini akan memburuk. Pertanyaannya adalah ketika ia memburuk lagi, dan itu hanya soal waktu, apakah kita masih akan merespon dengan cara yang sama seperti hari ini atau dua tahun yang lalu? Diam, menyerap sendiri lalu melanjutkan hidup seolah tidak pernah ada yang perlu diubah.
Hilirisasi Tidak Mengubah Peta
Apa itu? Begini penjelasannya. Orang biasanya menyebut hilirisasi sebagai solusi. Jangan ekspor mentah. Olah dulu, naikkan nilai tambah dan secara prinsip itu benar. Kita memang harus menuju kesana.
Tetapi ada satu hal yang ingin saya ingatkan. Yang jarang dibahas dalam narasi hilirisasi itu.
Apa itu? Ternyata biodiesel tetap dikirim lewat kapal. Oleokimia tetap melewati rute yang sama.
Produk hilir sawit seberapapun tinggi nilai tambahnya, pada akhirnya harus keluar dari pelabuhan kita dan melewati peraian yang sedang kita bicarakan ini.
Hilirisasi menjawab soal nilai, tapi tidak sama sekali mengubah satupun garis di peta.
Kalau selat Hormuz sedang tidak aman, kapal yang membawa biodiesel kita menghadapi resiko yang sama persis dengan kapal yang membawa CPO mentah itu.
Kita butuh dua percakapan yang berbeda sekaligus untuk dua masalah yang berbeda.
Hilirisasi adalah percakapan yang pertama, yang kita sudah mulai. Tetapi percakapan kedua tentang diversifikasi rute, tentang membangun posisi tawar di pasar yang lebih beragam, itu hampir tidak pernah kita mulai dengan serius. Karena itu, saya ajak kita serius bicara tentang hal ini.
Mengelola Bukan Berarti Menunggu
Setiap kali ada eskalasi di Timur Tengah, kita selalu terkejut dengan dampaknya pada komoditas.
Padahal polanya sudah berulang cukup lama, untuk kita tidak lagi bisa sebut tidak terduga.
Di suatu tempat di Labuhan Batu, ada petani yang hari ini sedang memanen sawit tanpa tahu bahwa harga yang akan dia terima minggu depan sedang dipengaruhi oleh keputusan yang diambil di Teheran, atau di Tel Aviv, atau di Washington DC.
Dia tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Tetapi saya yakin, Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya seharusnya bisa. Dan dari parlemen ini, kita dukung penuh.
Mengelola industri sebesar ini bukan hanya soal mendorong produksi dan ekspor saja. Ia juga soal memastikan bahwa ketika dunia sedang tidak stabil, kita sudah cukup siap untuk tidak selalu menjadi pihak yang menerima tekanan paling bawah.
Sampai hari ini, kesiapan ini masih belum lengkap, kalau tidak ingin disebut belum ada. Dan selama belum ada, konflik manapun yang terjadi ribuan kilometer nun jauh dari sini, akan selalu menemukan cara untuk sampai ke kebun-kebun kelapa sawit rakyat kita.
[Redaktur: Fernando]