Industri ini juga menghidupi 4,5 juta orang Indonesia. Tapi semua itu harus keluar lewat satu pintu dan pintu itu sedang dalam kondisi yang tidak bisa kita prediksi belakangan ini.
Apa yang Terjadi Ketika Pintu Itu Macet
Kita tidak perlu berspeklulasi soal ini karena kita sudah punya contoh nyata. Akhir tahun 2023 ketika Houti menyerang kapal-kapal di laut Merah, hampir semua perusahaan pelayaran internasional besar, memutuskan hal yang sama, apa itu, putar balik. Ambil rute Afrika.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Perjalanan yang biasanya 2 minggu, berubah menjadi sebulan. Biaya operasional membengkak drastis. Dan karena mereka tidak mau rugi, selisih itu dibebankan kedalam rantai harga komoditas.
Bagi eksportir sawit, ini berarti margin yang lebih tipis. Bagi pengepul ini berarti negosiasi yang lebih ketat lagi. Dan pada ujung rantai yang paling bawah, ada petani, orang-orang yang saya wakili di Sumatera Utara III yang tiba-tiba mendapati harga beli tandan buah segar turun. Tanpa penjelasan, tanpa pemberitahuan.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di laut Merah. Yang mereka tahu hanya harga minggu ini, lebih rendah dari minggu lalu. Itulah yang terjadi dua tahun lalu. Ketika situasinya belum sepanas sekarang.
Baca Juga:
China Tawarkan Energi ke Taiwan, Ada Syarat Besar di Baliknya
Wajah yang Tidak Muncul di Berita
Ketika media memberitakan dampak konflik Timur Tengah pada komoditas yang tampil biasanya adalah grafik harga.
Konfrensi pers teman-teman dari gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia, yang datar-datar saja, landai-landai saja, atau rilis dari Kementerian Perdagangan.
Sedangkan petani sawit di Sumatera Utara tidak masuk dalam frame itu. Padahal merekalah yang paling langsung menanggung konsekuensinya. Di Labuhan Batu, di Asahan, di Padang Lawas, dan atau tempat-tempat lain penghasil kelapa sawit.