Sebagian besar kebun dikelola keluarga dengan lahan 2-4 hektar saja, kecil sekali. Tidak ada kontrak jangka panjang yang melindungi mereka dari fluktuasi harga.
Tidak ada instrumen keuangan untuk meredam guncangan harga. Panen datang setiap dua minggu dijual kepengepul dan harganya mengikuti kondisi hari itu.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Nah ketika biaya logistik global naik akibat gangguan di jalur laut nun jauh disana, tekanan itu tidak berhenti di level korporasi.
Ia mengalir turun sampai ke tangan petani yang bahkan tidak tahu nama selat yang menjadi sumber masalahnya.
Inilah yang selalu luput dari diskusi kita. Bahwa geopolitik itu bukan abstraksi. Ia konkrit dan ujung-ujungnya selalu mendarat di tempat yang paling tidak siap menerimanya.
Baca Juga:
China Tawarkan Energi ke Taiwan, Ada Syarat Besar di Baliknya
Produsen Terbesar yang Tidak Punya Suara
Ini pun jadi soal kita. Yang membuat situasi ini semakin pelik adalah kenyataan bahwa sebenarnya kita punya modal yang sangat besar untuk tidak berada di posisi ini.
Lebih dari separuh pasokan minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Kalau kita berhenti ekspor selama sebulan, harga minyak nabati global akan langsung berguncang.
Itu bukan kecil. Itu leverage yang nyata. Tapi leverage itu tidak pernah kita gunakan sebagai instrumen posisi tawar dalam diplomasi dagang, dalam negosiasi rute, atau dalam percakapan tentang keamanan jalur ekspor.