Mengapa tidak negara mencoba membuka sayembara— seperti yang pernah dilakukan Donald Trump tahun lalu ketika mengumumkan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu menangkap Presiden Venezuela?
Memang, pendekatan ini terdengar sedikit liar, di luar kebiasaan hukum formal kita, tetapi menghadapi penjahat kelas kakap seperti Riza Chalid, rasanya tidak berlebihan jika negara menawarkan hadiah bagi siapapun yang mampu membawa kembali sang buron ke hadapan keadilan.
Baca Juga:
Pimpin Upacara di SMA Negeri 1 Kabanjahe,Hinca Panjaitan:Tingkatkan Semangat Belajar, Hormati Gurumu,Bela Gurumu,Jangan Ada Guru Dikriminalisasi
Jika usul semacam ini terdengar berlebihan, mungkin karena kita sudah terlalu lama nyaman melihat penjahat besar diperlakukan halus atas nama sopan santun diplomatik, sementara rakyat diminta terus bersabar. Negara ini harus terus menekan. Dari segala sisi. Dari segala lini.
Sebab, saya ingat perkataan Brian Tracy, bahwa tidak ada orang yang bekerja lebih baik saat tertekan. Dan itulah harapan saya, bahwa tekanan terhadap Riza Chalid akan membuatnya salah menghitung langkah, panik menentukan arah, lalu mulai berbuat keliru di titik yang selama ini ia jaga rapat.
Pada saat itulah jaringan pelindungnya ikut retak, sebab kepanikan selalu menuntut biaya, dan biaya selalu meninggalkan jejak.
Baca Juga:
Komnas HAM Ungkap 3.264 Kasus Konflik Agraria, Polisi Disebut Hadapi Posisi Dilematis
Semoga Kejaksaan tidak pernah kehabisan napas—tidak tergoda oleh jalan pintas, tidak tergoyah oleh lobi kelas atas.
Karena sesungguhnya, kita sedang berusaha untuk memulangkan yang lari, menghitung yang disembunyikan, dan mengadili yang terbiasa membeli jalannya sendiri.
[Redaktur: Robert Panggabean]