Ditahap awal, fokusnya sederhana. Bagaimana bisa ada broker yang selalu memang tender. Bagaimana mungkin harga dasar BBM bisa terus naik tanpa kendali. Alhasil, negara selalu nombok alias tekor besar.
Subsidi juga jadi jebol. Nama Riza Chalid belum disebut waktu itu. Tapi struktur permainannya mulai terbaca.
Baca Juga:
Pimpin Upacara di SMA Negeri 1 Kabanjahe,Hinca Panjaitan:Tingkatkan Semangat Belajar, Hormati Gurumu,Bela Gurumu,Jangan Ada Guru Dikriminalisasi
Bulan-bulan berlalu dan Februari 2025 menjadi momen penghubung. Anak Riza Chalid bernama Muhammad Kerry Andrianto Riza ditetapkan sebagai tersangka.
Ia terlibat dalan skema impor dan pencampuram BBM yang licik.
Apa itu? Dokumen menyebut RON 92 tapi faktanya yang dikirim ternyata hanya RON 90. Yang kemudian diblended.
Baca Juga:
Komnas HAM Ungkap 3.264 Kasus Konflik Agraria, Polisi Disebut Hadapi Posisi Dilematis
Diatas kertas namanya Pertamax. Dilapangan disebut Pertalite. Dua nama yang berbeda. Dua fungsi yang berbeda. Dua benda yang berbeda.
Dan negara membayarnya dengan harga yang sangat mahal. Masyarakat yang dirugikan.
Disanalah seantero nusantara ribut. Gaduh, marah. Sampai akhirnya banyak yang menaruh curiga pada pompa bensin milik pertamina. Bahkan hingga hari ini, tidak mudah memperbaiki image dan citra buruk itu.