Meskipun agama berbeda, namun tingkat toleransi umat antar beragama sangat tinggi. Kearifan lokal atas hasil bumi dari warisan leluhur sangat memperdulikan kelestarian alam.
Dicontohkan, dulunya setiap masyarakat petani ketika mangordang (menanam) padi, mereka melakukan doa persembahan kepada Tuhan, lewat adat tradisional dan makanan khas seperti itak putih dan pohul-pohul serta itak gurgur.
Baca Juga:
BPASN Sidangkan 69 Kasus ASN di Awal 2026, Mayoritas Berujung Pemberhentian
Itak putih menggambarkan bersihnya hati untuk melakukan kegiatan menanam. Pohul-pohul yang berwarna merah kecoklatan, menggambarkan keberanian untuk menyatakan yang benar. Itak gurgur menggambarkan, agar hasil dari tanaman berlimpah.
Pada acara itu, dalam kegiatan opera, masyarakat menceritakan asal-usul desa masing-masing.
Hal itu bermaksud untuk tetap mengingat dan menjaga setiap peninggalan leluhur terutama tanah, air, hutan dan kebiasaan adat yang bisa memberikan kehidupan kepada banyak generasi.
Baca Juga:
Tradisi Tahunan Ramadan, MT Forkowas Bagikan Rezeki kepada Dhuafa dan Anak Yatim
Harapan masyarakat melalui pesta rakyat pada perayaan hari bumi dimaksud, agar semakin banyak masyarakat yang sadar dan lebih peduli terhadap bumi. [gbe]