"Kita tahu, setelah malam itu lagu Indonesia Raya menyebar dengan cepat. Dalam keheningan perlawanan, lagu itu menjalar ke seluruh penjuru Nusantara—menembus sekat-sekat etnis, agama, bahasa, bahkan politik," imbuh Hinca.
Politisi Demokrat itu pun mengakui bahwa kalau hari ini kita mengenang Sumpah Pemuda, seringnya kita hanya terpaku pada tiga ikrar itu saja. Kita lupa pada satu biola yang berbunyi pelan di belakangnya.
Baca Juga:
Kontroversi Trump: Iran Disebut Habis Tenaga tapi Masih Dipersilakan ke Piala Dunia
"Padahal, justru dari situlah kita belajar bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari narasi besar. Kadang hanya dari satu keputusan kecil: memilih medium yang paling sesuai dengan hati nurani," katanya.
"Seperti Supratman, yang malam itu tidak ikut berdebat, tetapi memilih memainkan lagu. Sebuah cara yang tidak diduga siapa pun. Tapi berhasil membuat bangsa ini bergerak, dari malam yang gelap menuju cahaya pagi yang sedikit lebih terang," lanjut Hinca.
"Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda, teman-teman. Semoga kita bisa menemukan medium lain seperti WR Supratman dengan biolanya, yang membawa bangsa ini terbang lebih tinggi, melangkah lebih jauh dan tumbuh lebih baik. Horas!" tutup Hinca.
Baca Juga:
Konflik Melebar, Washington Kirim Marinir dari Jepang ke Timur Tengah
[Redaktur: Robert Panggabean]