Junimart membuat tanda di buku daftar pasien. Sering kali, ibunya "pusing" karena keluarga pasien mengklaim sudah bayar ke "si anak yang botak", padahal, pasien belum sembuh.
Atas kenakalan itu, Junimart pernah dihukum ibunya hingga ia kabur dari rumah. Pada kasus lain, ibunya mengeluh sering kehilangan uang dari lemari.
Baca Juga:
Peringati Hari Krida Pertanian 2026,Bupati Karo: Mari Kita Bangun Pertanian Secara Produktif dan Moderen
Sementara Juniver, paling rajin membersihkan rumah berikut dengan kain lap atau serpet.
Saudara mereka, Waldenius, kata Junimart, paling menikmati masa kecil. "Dimanja, tak pernah kerja keras. Belajar dan belajar terus. Kalau saya, berantem aja," ujar Junimart.
“Kalau saja ayah kami masih hidup, dia akan senang melihat kami, anak-anaknya," imbuh Junimart sembari menghapus air matanya.
Baca Juga:
Kasus Penyekapan Perempuan 3 Tahun Jadi “Kejahatan Kemanusiaan”, KemenHAM Jabar Soroti Penanganan dan Pembiayaan Korban
Junimart mengajak agar setiap insan berguna bagi sesama. "Ingkon na mora na boi daion. Otik alai tonggi," kata Junimart.
Pada kesempatan itu, Junimart dan Juniver meniup lilin, diikuti pembagian kue ulang tahun kepada istri tercinta dan menyuap ibunda mereka. [gbe]