Sementara Masrida menyebut, saat kejadian, Minggu (1/12/2014), dia baru saja menutup lapak jualan di onan (pasar) Simallopuk.
“Tiba-tiba kudengar, rumahku terbakar. Saya minta tolong kepada pengendara sepeda motor agar dibawa ke rumah. Saat tiba, saya tengok kediaman ludes jadi arang. Tak ada yang selamat kecuali pakaian di badan”, ujar dia, meneteskan air mata.
Baca Juga:
Junta Militer Myanmar Umumkan Gencatan Senjata Sementara Pascagempa Mematikan
Petang itu, putrinya sedang memasak mempergunakan magic com. Sebentar, pergi ke luar untuk mengisi paket internet. Ketika pulang, putrinya yang masih duduk di bangku SMP melihat asap telah mengepul.
"Anakku teriak minta tolong tetapi api sudah menyambar tak terkendalikan," kata perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga itu.
Sang suami, Bagak Sagala, telah lama menghadap Sang Pencipta, sehingga dirinya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga.
Baca Juga:
Indonesia Siap Mitigasi Dampak Negatif Tarif Impor AS Terhadap Produk Buatan Indonesia
“Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih. Ternyata kami tidak dibiarkan sendirian," ujar Masrida.
Ditambahkan, dia dikaruniai 3 anak perempuan. 2 bersekolah di SMP dan SMA dan 1 orang merantau di Pekan Baru.
Pasca musibah, mereka menumpang di rumah abangnya, berjarak 10 meter dari lokasi rumah mereka yang terbakar tersebut.